Artikel Berita

Mentan Amran Respons Cepat Aspirasi Mahasiswa dan Dosen UNM, Dari Keluhan Pupuk hingga Kualitas Bera

Penulis

Admin Jagatara

Diterbitkan

07 Juni 2026

Kategori

Umum

Dilihat

25x

Penulis

Admin Jagatara

Tanggal

07/06/2026

Kategori

Umum

Dilihat

25x

#Mentan Amran#Swasembada Pangan#Jagatara Indonesia
Mentan Amran Respons Cepat Aspirasi Mahasiswa dan Dosen UNM, Dari Keluhan Pupuk hingga Kualitas Bera

Makassar — Kuliah umum Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (3/6/2026), berlangsung lebih dari sekadar forum akademik. Di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen, kegiatan tersebut berkembang menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan kebijakan pemerintah dengan berbagai persoalan nyata yang masih dihadapi masyarakat dan petani di lapangan.

Beragam aspirasi mengemuka dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mulai dari persoalan distribusi pupuk subsidi, tantangan usaha pertanian yang merugi, hingga kualitas bantuan pangan yang diterima masyarakat. Menariknya, setiap masukan yang disampaikan mendapat respons cepat langsung dari Menteri Pertanian.

Sejak awal dialog, mahasiswa dan dosen memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temui di daerah masing-masing. Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian adalah distribusi pupuk subsidi.

Seorang mahasiswi asal Bone mengungkapkan keluhan masyarakat terkait harga pupuk subsidi yang dinilai tidak sesuai ketentuan serta sering terlambat tersedia ketika dibutuhkan petani. Keluhan serupa juga disampaikan mahasiswa asal Enrekang yang berasal dari keluarga petani bawang merah.

“Di desa saya, pupuk subsidi Rp115 ribu per sak dengan tambahan transportasi. Kesediaan pupuk juga sering terlambat,” curhat mahasiswa bernama Ika asal Bone.

Mendengar laporan tersebut, Mentan Amran langsung merespons dengan tegas. Ia menekankan bahwa pupuk subsidi merupakan hak petani yang harus dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan di luar ketentuan.

Bahkan, di hadapan peserta kuliah umum, ia langsung menginstruksikan jajaran terkait untuk melakukan penelusuran dan mengambil tindakan apabila ditemukan pelanggaran.

“Kasih namanya pengecernya. Pupuk Indonesia turun ke sana, begitu benar terbukti melanggar, langsung cabut izinnya. Kita tindak tegas. Hak petani harus kita jaga,” tegas Mentan Amran.

Tidak hanya persoalan pupuk, sesi dialog juga menghadirkan kisah perjuangan pelaku usaha pertanian yang tengah menghadapi tantangan. Seorang mahasiswa asal Mamasa, Sulawesi Barat, menceritakan usaha singkong yang dijalankannya masih mengalami kerugian. Pengalaman serupa turut dibagikan seorang dosen UNM yang pernah merugi lebih dari Rp100 juta akibat kegagalan dalam usaha budidaya bawang merah.

Alih-alih memandang kegagalan sebagai akhir dari perjalanan usaha, Mentan Amran mengajak keduanya untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal dalam membangun usaha yang lebih baik ke depan. Menurutnya, banyak keberhasilan lahir setelah seseorang mampu bangkit dari berbagai kegagalan.

“Kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Banyak orang berhasil karena mau bangkit setelah jatuh. Yang penting terus belajar dan memperbaiki cara,” ungkapnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Mentan Amran tidak hanya memberikan motivasi. Ia juga membagikan berbagai tips kewirausahaan kepada mahasiswa serta langsung menghubungi jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura agar memberikan pendampingan dan pengawalan terhadap rencana pengembangan budidaya bawang merah yang akan kembali dijalankan oleh dosen tersebut.

Respons cepat juga ditunjukkan ketika seorang dosen lainnya menyampaikan aspirasi masyarakat terkait kualitas beras bantuan yang diterima warga. Menurut dosen tersebut, terdapat keluhan mengenai mutu beras yang diterima sebagian masyarakat.

Menanggapi laporan itu, Mentan Amran segera meminta agar persoalan tersebut ditelusuri lebih lanjut sehingga masyarakat dapat memperoleh bantuan pangan yang layak sesuai standar yang ditetapkan.

Bagi Mentan Amran, forum dialog seperti yang berlangsung di UNM memiliki nilai penting karena memberikan gambaran langsung mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dari berbagai daerah. Informasi yang disampaikan mahasiswa maupun dosen dinilainya menjadi masukan berharga dalam penyempurnaan pelaksanaan program-program pertanian di lapangan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga swasembada pangan nasional tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah semata. Keterlibatan perguruan tinggi, akademisi, mahasiswa, petani, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan berbagai program berjalan efektif dan tepat sasaran.

Karena itu, kampus didorong untuk terus mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah melalui penguatan riset, inovasi, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan nyata di sektor pertanian.

“Perguruan tinggi memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Inovasi yang lahir dari kampus harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan petani,” katanya.

Selain berdialog dengan civitas akademika, Mentan Amran juga memaparkan sejumlah capaian sektor pertanian nasional yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan swasembada pangan Indonesia. Beberapa capaian yang disampaikan antara lain stok beras nasional yang telah mencapai lebih dari 5,3 juta ton, meningkatnya kesejahteraan petani, semakin mudahnya akses terhadap pupuk bersubsidi, serta bertambahnya ekspor komoditas pertanian bernilai tambah.

Menurutnya, berbagai pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa yang selama ini terlibat dalam pembangunan sektor pertanian nasional.

Di akhir kuliah umum, Mentan Amran kembali menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan swasembada pangan yang telah dicapai Indonesia. Ia menilai keberhasilan tersebut harus terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, perguruan tinggi, dan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Ini adalah kerja bersama. Swasembada pangan yang kita capai hari ini harus dijaga agar terus berkelanjutan dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” tutupnya.